
IAI Jakarta Awards merupakan ajang penghargaan karya arsitektur tingkat daerah yang pertama kali diinisiasi pada tahun 2006 oleh Bambang Eryudhawan dan Ery Jauhari Miemar, yang masing-masing menjabat sebagai ketua dan wakil ketua IAI Jakarta periode 2003-2006. Gagasan ini muncul dari keinginan untuk menciptakan tradisi penghargaan arsitektur daerah yang dapat menjadi wadah seleksi menuju IAI Awards Nasional.
Dari kiri ke kanan: arsitek Hatmadi Pinandoyo, arsitek Azhar, arsitek Soenaryo Sosro, arsitek Han Awal, arsitek Adhi Moersid, arsitek Soejoedi Wiryoatmodjo, arsitek Soewondo Bismo Soetedjo
Untuk memastikan kredibilitas penghargaan, IAI Jakarta menunjuk Michael Sumarijanto dan Alm. Adhi Moersid sebagai Dewan Pengarah. Komposisi juri disusun secara progresif dan lintas disiplin dengan Prof. Gunawan Tjahjono, yang saat itu baru menerima gelar Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia, sebagai Ketua Juri, didampingi Alm. Prof. Dr. Sandi A. Siregar dan Marco Kusumawijaya yang merupakan praktisi arsitektur, serta Prof. Sardono W. Kusumo, penari dan koreografer yang dikenal memiliki kepekaan terhadap desain ruang, serta arsitek dari Singapura, Chan Soo Khian, untuk memberikan perspektif internasional. Selain Chan Soo Khian, arsitek asing yang pernah menjadi juri antara lain Kevin Low dari Malaysia dan Michel Rojkind dari Meksiko pada 2009, serta Rene Tan dari Singapura pada 2012.
Aspek simbolik penghargaan juga mendapat perhatian khusus dengan menunjuk pematung Rita Widagdo untuk merancang piala berkarakter minimalis yang mencerminkan nilai-nilai arsitektur. Desain piala ini kemudian menjadi ikon tetap IAI Jakarta Awards hingga saat ini.
Penyelenggaraan perdana pada 2006 menghasilkan 22 karya nominasi. Para pemenang utama antara lain Andra Matin dengan Javaplant Office dan Winfred House, Sukendro Sukendar dengan Small Urban House, Adi Purnomo dengan Rumah Tangkuban Perahu, dan Antony Liu dengan Club House Bukit House. Penghargaan Honorable Mention diberikan kepada Antony Liu untuk Conrad Chapel dan Arya Abieta untuk Pemugaran Gedung Eks-Imigrasi, ), yang dianugerahkan sebagai bentuk dorongan terhadap pelestarian bangunan bersejarah.
Proses penjurian menghadirkan dinamika diskusi yang memperkaya perspektif, termasuk perdebatan antara juri lokal dan internasional mengenai keseimbangan antara karakter lokal dan visi progresif dalam arsitektur. Dialog ini menunjukkan keseriusan forum sebagai arena intelektual dan kritik arsitektur.
Seiring berjalannya waktu, penghargaan ini mengalami berbagai penyesuaian. Pada 2009, kriteria dibatasi hanya untuk karya arsitek anggota IAI Jakarta yang berlokasi di Jakarta, namun kemudian mengalami perubahan. Kategori bangunan ditambahkan pada 2012, dan kategori Karya Tulis Arsitektur diperkenalkan pada 2020.
Keberhasilan IAI Jakarta Awards menginspirasi penyelenggaraan serupa di provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali. Pada 2023, lahir pula Penghargaan Jakarta Lestari yang digagas oleh Cosmas Gozali dan Doti Windajani, dengan fokus apresiasi terhadap karya yang mendukung pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta.
Setelah hampir dua dekade, IAI Jakarta Awards telah berkembang menjadi lebih dari sekadar ajang selebrasi dan sekedar meneruskan tradisi, namun juga menjadi sebuah warisan semangat, bahwa profesi arsitek perlu terus dikritisi, dihargai, dan dikembangkan lewat forum yang jujur, terbuka, dan membangun.